publikasi.id merupakan layanan jasa yang berfokus pada publikasi jurnal baik internasional maupun nasional. Tidak hanya jasa publikasi saja tetapi dari pembuatan artikel, terjemah bahasa inggris, pembuatan power point ujian, desain, jurnal skripsi, jurnal tesis, dll. Terbukti dari banyaknya pengguna jasa kami, bisa anda temukan di kolom testimoni.

Read more

Monday, September 28, 2015

0

Masyarakat di Tulungagung pasti sudah mengenal permainan yang bernama Tiban ini. Sudah sejak lama permainan ini dimainkan apabila musim kemarau berlalu sangat lama. Tiban merupakan permainan cambuk yang dilakukan oleh dua orang di lapangan atau bisa dilakukan di arena manapun asal di luar ruangan. Permainan ini merupakan permainan keberanian yang umumnya dilakukan oleh kaum pria dewasa. Tiban sering dilakukan bersamaan dengan upacara adat "meminta hujan". Belum diketahui asal usul permainan ini.

Ketika musim kemarau sudah melewati batas secara geografis, maka pelaksanaan Tiban biasanya dilakukan. Musim kemarau panjang membuat petani kesulitan menanam padi, oleh karena itu petani biasanya mengharapkan hujan datang dengan melakukan permainan Tiban. Tiban berasal dari kata "tiba", yang artinya jatuh. Dalam hal ini dengan diadakannya permainan itu diharapkan agar "jatuh hujan" pada saat-saat kering itu. Pelaksanaan tiba umunya diawali dengan sembahyang istiqa'. Sembahyang istiqa' merupakan sembahyang yang dilakukan oleh Rasul SAW untuk meminta hujan.

Tiban merupakan salah satu budaya yang terdapat di Wajak, Boyolangu, Tulungagung. Tiban merupakan adu kekuatan yang dilakukan oleh pria dimana cambuk digunakan sebagai senjatanya. Tiban muncul pada zaman pemerintahan Tumenggung Surontani II. Hal ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibi tprajurit yang tangguh dan gagah perkasa. Sampai sekarang kesenian Tiban masih dilestarikan di daerah Wajak dan sekitarnya. Bahkan setiap digelar Tiban, masyarakat "Tumplek Blek" memadati lapangan. 

Awal mulaya permainan Tiban ini menurut tokoh masyarakat Wajak berawal dari masa Tumenggung Surontani II. Dewi Roro Pilang anak kandung Tumenggung Surontani II dihamili oleh Gusti Panembahan Senopati Mataram, pada waktu penobatan Tumenggung Suwantri II. Mendengar peristiwa tersebut Tumenggung Surontani II menjadi murka, ia memerintahkan senopatinya untuk meminta pertanggungjawaban dari Gusti Penembahan Senopati di Mataram. Sambil menanti kabar dari senopatinya, Tumenggung Surontani II mengadakan pertunjukan adu kekuatan yang sekaligus sebagai hiburan rakyat. Pertunjukan tersebut dinamakan "Tiban". Sebenarnya semua itu merupakan taktik Tumenggung Surontani II untuk mencari bibit prajurit yang dipersiapkan untuk menghadapi serangan. Senopati murka atas pengiriman Patih Tumenggung Surontani II untuk meminta pertanggungjawaban dan beliau mengirimkan pasukannya untuk menyerang KetemenggunganWajak.

Sampai sekarang kesenian Tiban masih sering dilaksanakan saat kemarau berkepanjangan. Namu kesenian ini telah mengalami perubahan yang mulanya untuk mencari bibit prajurit-prajurit unggul sekarang tidak untuk itu, karena negara Indonesia telah merdeka, jadi hanya dijadikan sebagai upacara adat dan meminta hujan. Lewat peristiwa sakral yang penuh persabungan kanuragan dan adu kesaktian itu, mereka berusaha mendatangkan hujan. Tradisi demikian berkembang sampai ke pelosok daerah Kabupaten Blitar, Trenggalek, Kediri, dan Ponorogo.

Sebagai peserta Tiban, tidak sembarang peserta dipilih untuk melakukan permainan ini. Karena permainan ini sangat keras sehingga harus melakukan beberapa ritual. Misalnya untuk masyarakat Wajak sendiri memilih peserta yang berani Tidur di dekat makam pendiri desa Wajak terutama di dekat Tumenggung Surotani II. Dalam sejarah lain menyebutkan bahwa sebelum dilaksanakannya Tiban, kegiatan ini dibuka dengan upacara "Ngedus Kucing". Dalam upacara ini kucing disiram dengan air kembang spiritual lebih dulu membaca mantra-mantra.

Konon bermula dari musim kemarau yang amat panjang yang menimpa daerah itu. Dalam situasi yang memprihatinkan itu seorong janda yang tidak diketahui sebelumnya tiba-tiba melihat seekor kucing yang amat kotor bulunya berniat ingin membersihkan bulu kucing itu. Secara kebetulan Mbok Rondo (sebut saja demikian) melihat sebuah mata air yang tidak mancur. Bak gayung bersambut, kucing tersebut langsung saja dimandikan. Tidak berselang lama keanehan terjadi. Secara tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Dengan pesta masyarakat menyambut kehadiran hujan yang telah mengakhiri kemarau panjang itu dengan Tiban. Lama-lama acara Ngedus Kucing itu menjadi kegiatan awal dalam Tiban, mereka mengharap keadaan turunnya hujan itu, terjadi pula dalam akhir Tiban.

0 komentar:

Post a Comment